Pandji Kiansantang

My Way to Share and Care

Menolong itu “Keluar dari Zone Nyaman”

*Renungan Pandji Kiansantang dalam rangka “Hari Relawan Sedunia”, 5 Desember 2018

“Masalah terbesar di alam semesta adalah tidak adanya lagi sikap mau menolong sesama” (Anakin Skywalker dalam film “Star Wars episode 1 : The Phantom Menace”)

Apakah Anda pernah menyaksikan peristiwa adanya korban kecelakaan lalu lintas dimana korban dikerubungi tapi hanya ditonton, tidak ada yang menolong?
Atau dengan dag dig dug  melihat komplotan pencopet beraksi di angkutan umum? Mereka menyasar seorang Ibu, tapi sampai Ibunya itu kecopetan dan pencopetnya kabur,  Anda memilih untuk berdiam saja dengan  alasan keselamatan diri Anda.

Pernah nonton acara “reality show” di TV tentang orang yang di-set di tempat umum di perkotaan yang seakan-akan membutuhkan pertolongan? Daya tarik acaranya adalah dari begitu banyak orang yang lalu lalang yang cuek, siapakan “sang budiman” yang bersedia untuk menolongnya? “Kebaikan hatinya” itu membuatnya layak untuk mendapat hadiah dari program TV itu.

Fenomena ini menggelitik pertanyaan filosofis : Kalau memang sifat dasar manusia itu baik, kenapa hanya SEDIKIT orang yang mau menolong? Apalagi menolong orang yang TIDAK dikenal : bukan keluarga, saudara, tetangga atau teman… just somebody on the street. Apakah hanya mereka yang kita kenal yang pantas kita tolong?

Ternyata ada “jarak” antara “kepedulian” atau “keprihatinan” dengan “menolong”… antara KEINGINAN menolong dan TINDAKAN menolong. Antara yang masih sebatas  di dalam hati dengan yang sudah dilakukan… Antara Niat dan Amal perbuatan.

Penulis yakin dengan fithrah kebaikan pada manusia, sesungguhya BANYAK orang yang peduli dan MAU menolong… tapi karena satu dan lain hal, TIDAK dilanjutkan dengan realisasi tindakan nyata.

Berdiam diri ketika melihat seseorang perlu ditolong merupakan wujud pilihan untuk “TETAP berada di Zone Nyaman”.  Dengan hanya menjadi “penonton dan pemerhati”, nyaris tidak ada resiko atau bahaya yang dihadapinya… ia tetap aman dan nyaman.

Beda dengan  tindakan menolong… sesungguhnya ia MEMILIH untuk mengambil langkah besar  berupa “KELUAR dari zona nyaman. Ada resiko, bahkan bahaya yang dihadapinya. Resiko terkecil adalah “kehilangan” waktu yang terpakai untuk membantu orang. Dibanding menghentikan langkah jalannya, banyak orang yang hanya “menoleh” dan lalu meneruskan jalannya. Mungkin ini didorong etos manusia modern bahwa “waktu adalah uang” dan “jangan ikut campur urusan orang lain” (mind your own business).

Mungkin resiko lainnya adalah: takut harus bertanggungjawab mengurus korban kecelakaan… sehingga lebih memilih untuk mengerubungi daripada menolong. Mungkin juga khawatir jika menyentuh tubuh korban, bisa dituduh mau mencopet atau melecehkan… Atau takut dikeroyok komplotan pencopet sehingga “cari aman” membiarkan aksi pencopetan di bis. Tapi bagi yang berperasaan halus, sikap berdiam diri itu akan membawa “rasa bersalah” (guilty feeling) karena membiarkan kejahatan berlangsung.

Yang harus kita sadari : Menolong atau membantu sesama manusia, yang ARTINYA membantu orang yang TIDAK kita kenal (menolong orang yang kita kenal, apalagi keluarga, itu wajar saja) sebenarnya pilihan yang BERESIKO. Ada sesuatu yang kita harus kita BERIKAN… “korbankan”… dalam menolong, baik berupa  waktu, tenaga (menjadi Relawan), uang  (menyumbang donasi) maupun lainnya.

Sesuatu usaha-lebih (extra-effort) pantas diganjar dengan apresiasi. Itulah mengapa tindakan menolong atau membantu itu dianggap AMAL KEBAIKAN yang diganjar dengan PAHALA…. “tabungan amal” untuk bekal persiapan kehidupan di akhirat.

Tuhan saja MENGHARGAI perbuatan baik hamba-Nya.. mengapa sesama manusia tidak mengapresiasi hal ini? Sungguh keterlaluan rasanya jika orang yang ditolong, TIDAK BERTERIMAKASIH pada yang menolong. Tapi ada saja pertolongan yang tidak dihargai, bahkan disalah-sangkai…

Oleh karenanya, mari kita menjadi “hamba Tuhan yang pandai bersyukur” sekaligus “manusia yang tahu terimakasih pada sesamanya”.

Bagaimana kita TAHU bahwa seseorang itu BERSYUKUR? Pastinya dari UCAPANNYA. Berupa perkataan “Alhamdulillah” atau “Puji Tuhan”. Hanya dengan ucapan “Terimakasih” sambil tersenyum, kita TAHU bahwa seseorang menghargai dan bersyukur atas bantuan yang kita berikan. Kita bukan “Pembaca Pikiran”, bagaimana kita tahu seseorang berterimakasih jika ia tidak mengucapkannya?

Memang dalam ajaran agama, kita dituntun untuk menolong dengan tulus dan TANPA Pamrih, hanya mengharapkan ridho Tuhan dan tidak mengharapkan ucapan terimakasih apalagi pujian dari manusia.

Memang di sini ada 2 sisi :
▪ bagi pemberi bantuan, makin tulus, tanpa pamrih dan tak mengharapkan ucapan terimakasih, berarti semakin baik kualitas amalnya.
▪ bagi kita yang dibantu : wajib bersyukur dan berterimakasih atas setiap kebaikan orang lain.

Jiwa manusia itu sering kering dan perlu disemangati. Bisa jadi orang lain akan kapok menolong kita, jika  kebaikan mereka tidak kita hargai.

Contohnya, jika teman kantor mentraktir makan siang. Jika setelah ditraktir, kita melenggang begitu saja tanpa mengucapkan “terimakasih”, bisa saja sang teman akan dongkol dan mengumpat dalam hati “Sialan. Dia pikir gue bayar makanan dia dari daun. Emang itu uang neneknya… KAPOK gue,  lain kali gak akan gue traktir dia lagi”.

Sebaliknya, jika sesudah selesai makan, kita yang ditraktir langsung berterimakasih dengan tulus, bahkan mendoakan agar teman kita itu makin banyak rezeki, DIJAMIN dia akan mentraktir kita lagi lain kali.

Apresiasi dan ucapan terimakasih  akan menyuburkan semangat membantu sang pemberi bantuan. Jadi berterimakasihlah atas perhatian dan kebaikan orang lain SEKECIL APAPUN, seperti ucapan “GWS, semoga cepat sembuh”… Apalagi terhadap bantuan dan pertolongan yang lebih besar, seperti teman yang bersedia meminjamkan uang pada saat kita kepepet. JANGAN bikin mereka Kapok dan Trauma untuk membantu orang lain… Ini sama saja artinya, kita membuat mereka berhenti jadi orang baik dan menghalangi orang lain untuk mendapat pertolongan

Jadi, kepada siapapun yang pernah berbuat baik dan membantuku — dalam bentuk apapun — kusungguh berterimakasih dan kunyatakan hormat karena telah berani KELUAR dari Zone Nyaman dengan mengambil resiko untuk menolong sesama… Semoga Tuhan mengganjar dan melipatgandakan kebaikannya.  Aamiin.

 

Terimakasih Relawan…

Volunteers are not paid — not because they are worthless, but because they are priceless” (Relawan tidak dibayar – bukan karena mereka tidak berharga, tapi karena mereka tidak bernilai)

PBB menetapkan tanggal 5 Desember sebagai “International Volunteer Day” (Hari Relawan Sedunia). Tema peringatan tahun ini adalah “Volunteers build resilient communities” (Relawan membangun masyarakat yang tangguh).

Relawan (dulu disebut : Sukarelawan) adalah “orang yang secara sukarela menyumbangkan : waktu, tenaga, pikiran dan keahliannya untuk menolong orang lain dengan tanpa pamrih (tidak mengharapkan imbalan). Yang terpentng adalah motivasinya : sukarela dan tanpa pamrih.

Sebelumnya mungkin kita tahunya membantu sesama itu dengan memberi donasi (pelakunya disebut : Donatur). Tapi sejak bencana Tsunami Aceh tahun 2004, kita dikenalkan dengan kiprah para relawan. Bencana itu adalah satu bencana alam terbesar di masa modern yang menewaskan hampir seperempat juta jiwa. Tapi di sisi lain juga merupakan penggalangan dana kemanusiaan terbesar. Begitu banyak relawan dari seluruh dunia datang untuk membantu dan merehabilitasi Aceh. Sejak itu masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan relawan. Seiring dengan terjadinya rentetan bencana alam, makin banyak relawan bermunculan di tanah air.

Apa jadinya dunia TANPA Relawan? Jawabnya : suatu dunia TANPA Perikemanusiaan. Begitu banyak bencana alam dan perang di dunia ini… dan para relawan datang sebagai penolong orang-orang malang. Pada saat kebanyakan orang menyikapi berita bencana hanya dengan menontonnya di TV, ternyata ada sekelompok kecil orang yang tergerak pergi ke daerah bencana, menghadapi berbagai resiko bahaya untuk menolong orang-orang yang tidak mereka kenal. Satu persamaan mereka adalah niat mulia untuk membantu sesama. Bagi korban yang ditolong, mereka adalah “Pahlawan tanpa tanda jasa” bahkan “malaikat penyelamat”…

Di masa modern dimana orang makin individualis, hanya mementingkan diri dan keluarganya saja, tindakan relawan sulit dipahami nalar. “Aneh, Kok ada ya orang seperti itu?”… itu reaksi umum yang mempertanyakan keberadaan relawan.

Ketika diajak melakukan sesuatu, banyak orang yang ingin tahu tentang manfaatnya bagi mereka… “Apa Manfaatnya BAgiKu?” disingkat AMBAK.

Sedikitnya ada 3 Manfaat menjadi Relawan :

1. Hidup lebih lama (Panjang umur). Hasil studi menemukan pekerjaan relawan berhubungan dengan penurunan resiko kematian. Relawan umumnya mampu mengelola stress dengan baik, padahal stress merupakan faktor resiko dari beberapa penyakit kronis

2. Hidup lebih Bahagia. Sikap peduli dan membantu orang lain berkaitan dengan hormon oksitosin yang sering disebut “hormon kasih sayang”. Selain itu dapat membantu sesama menimbulkan kepuasan batin. Hal ini menjadikan terasa lebih bermakna dan berbahagia.

3. Tabungan Amal dan mencari ridho Tuhan
Ini manfaat dunia-akhirat yang tak ternilai yang akan kita peroleh ketika mau bersusah payah menjadi “orang baik” yang membantu sesama.

Ayo kita jadi relawan…
Kepada relawan dimanapun Anda berada… Terimakasih… Thank you very much.. Gan en.

*Memperingati “Hari Relawan Sedunia”, 5 Desember 2018

www.PandjiKiansantang.com

Belajar Strategi di Candra Naya

*oleh Pandji Kiansantang

Sekali pergi… raup 2 ilmu. Hoki namanya. Sabtu kemarin saya ikut “Seminar Kesehatan” di Hotel Novotel, Jl Gajah Mada.

Setelah seminar selesai, ketika berjalan dari hotel ke gedung parkir ternyata ada gedung tua mirip museum. Ya itulah Gedung Candra Naya yang dikonservasi sehingga tetap lestari di antara gedung hotel dan gedung parkirnya. Unik.. mungkin tak ada di Jakarta, museum yang berada di dalam komplek hotel.

Sebagai “insan Sejarah”, masuk ke gedung bersejarah yang dibangun pada abad ke-19 itu sungguh bersemangat…
Seperti kembali ke habitatnya… bagai ikan masuk ke aquarium… he..he

Candra Naya dulu dikenal sebagai “rumah mayor” karena merupakan bekas kediaman Mayor Khouw Kim An. Ia adalah Mayor Tionghoa yang terakhir di Batavia, pada pemerintahan tahun 1910-1918 dan diangkat kembali pada tahun 1927-1942. Tidak ada catatan pasti yang menandakan tahun pendiriannya, tapi diperkirakan Candra Naya didirikan sekitar tahun Dingmao (kelinci api), yaitu tahun 1807 oleh Khouw Tian Sek. Sejak 1946 gedung ini menjadi pusat perkumpulan sosial Asosiasi Xin Ming. Pada tahun 1964 berubah namanya menjadi “Candra Naya”.

Yang luar biasa, ternyata di Gedung Candranaya ini terpajang koleksi PUSAKA hikmah kebijaksanaan China kuno. Semacam galeri intisari ilmu… dari ajaran sang guru moral Kong Hu Cu, Dao De Jing (Tao Te Cing), Ajaran Chu Zi untuk rumah tangga, San Zi Jing (Ajaran Tiga Huruf), Di Zi Gui (Panduan menjadi Murid yang baik), sampai sumber strategi militer Sun Tzu…

Luar biasa. Banyak yang tidak sadar hal ini. Kebanyakan orang datang ke gedung bersejarah ini hanya untuk berfoto foto ria atau berselfie… Sayang sekali, mereka tidak sadar bahwa DI DEPAN mereka terpampang pusaka hikmah yang tak bernilai… semacam “the invicible treasure”…

Jadilah saya selama hampir 1 jam tegap berdiri mempelototi galeri ilmu di sepanjang dalam ruangan gedung. Istri saya yang menemani bilang “Ngapain repot-repot dicatat di smartphone? Foto saja atau di cari google kan bisa”… Memang bisa sih, tapi di Sabtu siang itu saya lagi punya semangat tinggi untuk belajar… Tiap butir kubaca, kucerna dan yang terpenting kucatat. Dengan harapan setelah meraup sebanyak mungkin “ilmu gratis” di gedung bersejarah ini.

Berikut sejumlah catatan terpilih terkait STRATEGI yang semoga juga bermanfaat untuk pembaca.

Poin-poin terpilih dari “The 36 Strategies” :

31. Mei Ren Ji : Strategi Wanita cantik : setiap orang punya kelemahan dan kebutuhan, gunakanlah untuk menguasai lawan.

7. Wu Zhong Sheng You :
Memunculkan Ada dari Ketiadaan : Ciptakan suatu keadaan seakan Tiada. Setelah lawan tertipu oleh ketiadaan itu, seranglah lawan dengan kekuatan kita yang sebenarnya.

11. Lie Dai Tao Jiang
Pohon Plum yang mati menggantikan Pohon Persik : ketika Kekalahan tidak dapat dihindari, kita harus siap menerima kekalahan untuk mendapat kemenangan yang lebih besar.

14 Jie Shi Huan Hun : Meminjam mayat untuk Menghidupkan kembali jiwanya : Lakukan pembaruan saat pasukan menjadi lemah. Pembaruan ini akan menampilkan semangat dan strategi baru.

17. Pao Zhuan Yin Yi :
Melempar Batu bata untuk mendapatkan batu giok (Jade) : Mengorbankan sesuatu yang kurang berharga utk mendapatkan yang lebih berharga.

27. Jia Chi Bu Dian : Berlagak bodoh, sembunyikan kecerdikan : Bila berhadapan dengan lawan yang kuat, sulit dikalahkan, kita berlagak bodoh dan lemah, sehingga lawan melihat kita sebagai bukan ancaman. Ketika lawan lengah, kita dapat mengalahkannya dengan mudah.

29. Shu Shang Kai Hua : Menempelkan Bunga palsu di pohon : Memperdaya lawan dengan penampilan yang hebat dan luar biasa, sekalipun keadaan diri kita tidak sehebat itu.

34. Ku Rou Ji : Tipuan melukai diri sendiri : kita harus mau berkorban dan kerja keras lebih dahulu untuk mencapai kesuksesan kemudian.

35. Lian Huan Ji : gabungan rangkaian strategi : Hanya 1 strategi kadang tidak efektif karena lawan terlalu kuat. Gunakan beberapa strategi secara serentak atau bertahap untuk mengalahkannya.

Dari “Seni Perang” Sun Zi / “The Art of War” :

5. Dalam operasi militer, jika PANGLIMANYA (Pemimpin) tidak mampu menyesuaikan diri dengan PERUBAHAN-PERUBAHAN yang ada, sekalipun ia tahu cara melewati kesulitan-kesulitan serta mendapatkan keuntungannya, maka ia takkan mampu mengembangkan kekuatan dan menempatkan prajuritnya secara optimal di medan perang.

Semoga tips strategi ini dapat kita manfaatkan untuk unggul dalam bisnis maupun dalam kehidupan sosial politik.

*Gedung Candra Naya, Minggu 2 Desember 2018

Impian 1000 Pulau

Bayi penyu tertatih-tatih merangkak menuju laut lepas..
Anak-anak pulau berlari bermain di pinggir pantai…
 
Orangtua melaut mencari ikan untuk menghidupi keluarga…
Kadang tergoda memakai cara yang merusak terumbu karang…
Berharap anaknya mengikuti jejaknya sebagai nelayan…
 
Anak pulau merajut harapan…  Khawatir selamanya nyangkut di pulau… 
Bermimpi menuntut ilmu di daratan…   
demi masa depan yang lebih baik…                     
bagi kampung halaman dan orang-orang yang dikasihinya…
 
Impian anak pulau…
Impian Indonesia…
Impian kita semua…
 
*Pandji Kiansantang dalam 
Nobar film “Impian 1000 Pulau” yang diadakan Lions Club Jakarta Barat bersama anak jalanan dan anak yatim di CGV Central Park Mall, Jakarta pada Sabtu 1 Desember 2018 jam 10 pagi
 
 
 
 
 

3 Manfaat Nonton Film Horror

*oleh Pandji Kiansantang
 
“Sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri atau takut yang amat sangat”… demikian definisi kata “Horor” di Kamus Bahasa.
 
Ada yang sering bilang “Ngapain nonton film horror
.. sudah bayar, ditakut-takutin”… “Hidup saja sudah horor, buat apa nonton film horor?”…. Tentu saja pendapat seperti itu sah-sah saja. Semua tergantung selera, yang tidak dapat dipaksakan.
 
Pasti ada dayatarik tersendiri dari film horor sehingga genre film ini termasuk yang paling banyak diproduksi di Indonesia. Film lokal seperti “Pengabdi Setan” dan “Suzzanna : Bernapas dalam Kubur” termasuk film nasional tahun 2018 yang box-office. Film Hollywood seperti “The Conjuring” memiliki fans tersendiri. Banyak juga film horror yang menjadi “cult movies” yang legendaris.
 
Berikut ada 3 manfaat nonton fim horor :
1. Melatih Keberanian. ” Yang perlu ditakutkan adalah Ketakutan itu sendiri”… itulah kesimpulan dari begitu banyaknya jenis rasa takut (phobia) di kalangan manusia. Penikmat film horor meledek hanya orang-orang “penakut” yang tidak mau nonton film horor. Takut setan.. takut kaget… takut terbayang-bayang… Nonton film horor itu memicu adrenalin mirip panjat tebing atau naik jetcoaster. Adegan “jumpscare”, visual menyeramkan, musik mengagetkan merupakan latihan untuk meningkatkan nyali. Orang bijak mengatakan “Orang penakut itu mati berkali-kali dalam hidupnya”. Jadi hadapilah ketakutanmu !
 
2. Mengembangkan “open minded”… ini khususnya berlaku bagi masyarakat modern di Barat yang mengagungkan logika. Film horor memperlihatkan bahwa tak semua hal di dunia ini dapat dinalar dengan akal. Ada hal-hal yang bersifat supranatural atau bisa disebut “faktor X”. Kesadaran ini akan membuat manusia lebih “tahu diri” dan waspada karena sadar ada makhluk- makhluk lain di dunia ini.
 
3. Meningkatkan Keimanan. Ada tuduhan bahwa film horor menggerus keimanan atau memperolok institusi agama. Tapi sesungguhnya “peran utama” film horor, yaitu Hantu merupakan bagian dari keimanan pada yang ghaib. Ajaran agama menyediakan perlindungan dari Hantu, Setan, Iblis yang merupakan “musuh abadi” manusia. Konflik antara “kekuatan Tuhan” dan “kekuatan Hantu” merupakan plot yang banyak ada di film horor. Jadi seharusnya dengan nonton film horor, membuat kita lebih ingat pada Tuhan… Semoga.
 
*Minggu, 2 Desember 2018, setelah menonton film ” Suzzanna : Bernapas dalam Kubur” di Arion XXI, Jakarta Timur

Kezhaliman Berlalulintas pada Musim Hujan

Ada musim hujan seperti sekarang  ini memang “kasta” pengguna jalan menjadi kontras. Di satu sisi, ada pengendara mobil (baik pribadi maupun transportasi umum) dan di sisi lain ada  : pengendara motor dan sepeda, serta yang paling rentan adalah Pejalan kaki.
 
Sungguh beruntung pengendara mobil, hujan yang deras tidak terlalu mengganggu kenyamananya mengendara. Paling apes, yang paling mereka khawatirkan di puncak musim hujan adalah terjebak banjir atau “genangan air”.
 
Pengendara motor apalagi sepeda  menghadapi masalah yang berlipat di musim hujan. Jangan bicara berkurangnya kenyamanan… tapi keselamatan yang dipertaruhkan. Bukan cuma takut mogok, licinnya jalan dan terbatasnya pandangan menjadi resiko. Badan basah kuyup, kedinginan dan masuk angin itu hampir pasti!
 
Seakan belum cukup “ujian hidup” para pengendara motor, sepeda dan pejalan kaki di musim hujan…. mereka sering jadi “Korban Kezhaliman” pengendara mobil.
 
Wahai para pengendara mobil, dengarkanlah curhat berikut ini :
“… sebuah mobil dengan jumawa nyalip motor yang kunaiki, lalu genangan air itu ‘nyembur’ keseluruhan diriku dengan sempurna! basaaah!!
 
Kuperhatikan kejadian itu sering berulang, bukan padaku tapi pada beberapa orang di jalan raya. Ketika mobil melintas, tak sedikitpun sang pengemudi memperlambat laju mobil saat melintasi genangan air untuk menghindari semburan air ke ‘pengendara motor atau pejalan kaki di pinggir jalan. Maka akibatnya jelas, kena air muncrat!… Lengkap sudah penderitaan…” (dikutip dari artikel “Kepada Pengendara Mobil” dari Blog Ani Rostiani, November 2010).
 
Sebagai sesama pengguna jalan yang “lebih beruntung” dengan mengendara mobil di musim hujan, seharusnya HATI-HATI dan TENGGANG RASA. Jika melihat ada pengendara motor apalagi pejalan kaki di samping jalan yang kita lalui, PELANKAN laju kendaraan kita… 
 
Jangan main kebut bablas memuncratkan genangan air yang kotor itu ke orang, motor atau mobil lain. Akibatnya bisa tak terbayangkan… HP bisa rusak dan Dompet basah kuyup… ada yang sedang dalam perjalanan untuk wawancara kerja, tapi gagal karena bajunya basah kena comberan, ada ojek online yang rugi karena makanan pesanan menjadi basah kena cipratan, dan tragedi lain
 
Kalau kita yang diperlakukan seperti itu pastilah kita juga tidak mau…
 
Dalam keadaan jalan licin dan tergenang apalagi ketika hujan, tidak ada alasan untuk NGEBUT. Yang penting adalah KESELAMATAN BERSAMA sesama pengguna jalan. Yang berlaku di jalan-jalan kecil  adalah Safety first… “Slow but sure”. 
 
Majalah Times pernah menyebut bahwa Kemacetan luar biasa di Jakarta adalah “latihan kesabaran”. Ternyata berlaku sabar juga perlu ketika berkendara pada saat hujan.
 
Kita sebagai pengendara mobil JANGAN EGOIS dan menjadikan yang lain sebagai “korban”… “Ojo dumeh”, jangan sombong, mentang-mentang….. Mobil bukan “raja jalanan” yang dapat merugikan orang lain.. ini jalan milik bersama. Jika  menciprati orang lain, maka sumpah serapah dan kemarahan yang muncul dari mereka yang merasa “dizhalimi”…
 
 
Jadi, penulis mengingatkan diri sendiri dan sesama pengendara mobil tentang ETIKA BERLALULINTAS pada musim hujan… JANGAN MENZHALIMI orang lain  pada musim hujan…  
 
Mobil sebagai rezeki Tuhan bisa dimanfaatkan untuk berbuat baik, seperti mempersilakan pejalan kaki lewat; jangan justru menimbulkan jadi “dosa” di jalan raya… Takutlah pada sakit hati dan “Doa orang yang teraniaya” !
 
*Seorang pengendara mobil yang prihatin, Pandji Kiansantang, 30 November 2018

Mengapresiasi hidup saat Melayat yang wafat

*oleh Pandji Kiansantang

Hujan sangat deras siang tadi. Membuatku agak enggan keluar kantor. Berita duka cita dari wafatnya suami teman sekerja, seakan cukup direspon dengan kalimat “ucapan standar” berbelasungkawa melalui WA.

Tapi ada semacam “energi kebaikan” yang mendorongku  untuk memilih menerjang hujan, melewati genangan air dan menelusuri rumah almarhum dengan bantuan Waze.

Ada perasaan lega bisa sampai di lokasi tujuan. “Mengalahkan” hujan dan memenangkan silaturahmi…
Aku pun melakukan “SOP Pelayat” : mengisi buku tamu, menyapa keluarga dan berdoa di samping jenazah.

Tadinya kuduga ketika memasuki rumah tempat dipersemayamkan almarhum adalah suasana duka, tangis dan lara.

Ternyata kedatangan para pelayat termasuk diriku disambut dengan ketegaran dan ketabahan sang istri.

Menjawab pertanyaanku, ia berkisah sudah 22 tahun berumah tangga, profesi suaminya dan menjelaskan secara detail kronologi wafatnya sang suami di Rumah Sakit. Dari sekedar mengajukan pertanyaan “formalitas” (basa basi) khas pelayat, ternyata berkembang menjadi suatu perenungan yang cukup mendalam.

Apalagi setelah sang istri menjelaskan alasan menempatkan jenazah, bukan di “Rumah Duka” seperti pada umumnya, tapi di tempat yang ia istilahkan “Rumah Cinta“, yaitu rumah yang dibangun sendiri oleh almarhum untuk tinggal bersama keluarga tercinta…

Suasana kehangatan keluarga ini juga tampak dari pajangan foto-foto keluarga di dalam rumah. Ada sebuah pajangan “kata mutiara” yang pas menggambarkan spirit kebersamaan dan religius keluarga ini  : “Family that Prays together, Stays together

Menurut kamus bahasa,  “melayat”,  artinya : “menjenguk (melawat) keluarga orang yang meninggal dengan tujuan menghibur dan menyabarkan hatinya”.

Tapi ternyata… keluarga almarhum cukup tegar, malah saya yang belajar dari ketegaran mereka. “Tugasnya sudah selesai…” kata sang istri memaknai kehilangan “belahan jiwanya” itu.

Pengalaman siang tadi menggugah kesadaranku bahwa  Melayat orang yang wafat sesungguhnya mengajarkan kita untuk Bersyukur atas karunia kehidupan. Setiap detik kehidupan adalah berharga… setiap tarikan nafas tidak ternilai… 

Terkadang kita baru menghargai  sesuatu ketika hal itu hilang dari kehidupan kita… Penyesalan selalu datangnya terlambat. Selayaknya momen kebersamaan dengan keluarga tercinta harus dinikmati dan disyukuri…

Terimakasih untuk inspirasinya Bu Juli… Rest in Peace Pak Audie….

*Kelapa Gading, Kamis, 29 November 2018. yang turut berbelasungkawa, Pandji Kiansantang

Jabatan…. oh, Jabatan…

*Pandji Kiansantang
 
Jabatan… Didamba orang… dikejar orang… dibanggakan orang…
 
Dianggap banyak orang sebagai tolok ukur kesuksesan… keberhasilan karir… batu loncatan kemakmuran… Pembeda strata sosial di kantor…
 
Jabatan identik dengan Tahta dan pintu gerbang Harta dan Wanita… bisa membuat gila Tahta… Bisa membuat lupa diri dan jumawa… Ketika kehilangan bisa terjerumus pada “post power syndrome”… Merubahnya dari Berkah menjadi Musibah…
 
Jabatan… bisa meletupkan “perang karir” yang diperebutkan dengan sengit… dari “politik kantor” a’la Machiavelli menghalalkan segala cara… dengan menjilat dan sikut menyikut… konon sampai cara mistik dengan media pesugihan dan santet…
 
Di balik pesona dan keglamorannya… “Jabatan itu sebetulnya AMANAH”…
Pangkat itu Amanah…
Anak buah itu Amanah…
Kantor itu Amanah…
Gaji itu Amanah…
Fasilitas itu Amanah…
Pekerjaan itu Amanah…
 
“Amanah” itu sesuatu… yang DITITIPKAN…. yang dipercayakan….
Sesuatu yang SEMENTARA… Fana… tidak kekal, apalagi Abadi…
 
Yang dititipkan… bisa diminta kembali… sewaktu-waktu bisa DIAMBIL dari kita….
Dapat HILANG kapan saja… Tidak pernah menunggu apakah kita sudah siap atau belum…
 
Jabatan, bukan “hak milik”, melainkan hanya “Hak Guna sementara”
 
Jabatan… seperti Harta, Tahta dan Keluarga adalah KARUNIA.. sekaligus UJIAN…
Manis ketika memilikinya, getir ketika kehilangannya.
 
Kehidupan itu bagai “komidi putar”… ada waktunya di atas, ada waktunya berada di bawah… Ketika sedang di atas, rendah hatilah… ketika sedang di bawah, berbesar hatilah…
 
Selagi diberi Amanah dan memiliki Jabatan… BERSYUKURLAH dan lakukan yang terbaik…
 
 
Ketika Jabatan itu hilang… tegarkan diri BERSABARLAH dan tetaplah Bersyukur karena pernah diberikan Amanah itu…. menjaga hati agar tetap berbaik sangka pada “Sang Pemberi Amanah” Tuhan Yang Maha Pengasih, yang sesungguhnya pasti mengkaruniakan AMANAT LAIN bagi hambaNya yang berserah diri…
 
*Nasihat bagi  diriku, di Jakarta, pada hari yang mendung disertai hujan dan petir menggelegar, Kamis 29 November 2018 jam 1 siang

Berhenti jadi “Pengekor” dengan Mengawali Hari dengan Menulis…

*oleh Pandji Kiansantang

Start your day with writing…. 

Dulu…. “Bangun tidur kuterus mandi”… Sekarang, banyak orang bangun tidur pagi, langsung pegang gadget yang ditaruh di samping tempat tidur … 

Ada 3 hal yang dilakukan di tempat tidur setelah bangun :

1) Membaca Berita online, WA, Facebook, Twitter atau Instagram 

2) Me-like tulisan atau foto yang disukai

3) Meng-copas tulisan yang dinilai “menarik”. 

Tanpa sadar, ketika kita bangkit ke kesadaran (bangun tidur), kita langsung “menjerumuskan diri” ke gelombang besar dunia maya…. dengan PERAN sebagai : Pembaca, Peng-Like dan Peng-Copas. Peran yang disebut terakhir ini ada yang menggelutinya begitu serius sehingga menjadi “spesialis Copas”…

Tidak ada yang keliru dengan aktivitas tsb, tapi bagaimana kalau kita memulainya dengan CARA yang LAIN… Dibanding menjadi “Penikmat” atau “Konsumen” dari tulisan orang lain, ayo kita jadi PRODUSEN.

Dibanding “mengkontaminasi” pikiran segar kita dengan “virus negatif” berita hoax, hate speech dan sebagainya, mari tuangkan PIKIRAN SEGAR kita dengan langsung menuliskannya SECARA ORISINIL tanpa terpengaruh lebih dulu dengan medsos . Tulislah untuk diri sendiri ataupun untuk berbagi  dengan sesama..

Tuliskan pengalaman dan inspirasi berkesan pada hari sebelumnya, termasuk penyesalan maupun yang membanggakan, dalam lembaran sejarah hidup kita… Biarkan ingatan tentang mimpi indah atau impian fantastik semalam dituliskan… Biarkan ide gagasan hebat  yang muncul di pagi hari dituangkan. Wujudkan Rencana yang akan dilakukan pada hari ini dengan menuliskannya… karena kita menciptakan sesuatu dua kali, yaitu mengkonsepkannya di dunia ide dan mewujudkannya di dunia realitas…

Tidak perlu jadi Sastrawan untuk mempuisikan mimpimu… tak perlu jadi Filsuf untuk menuangkan pemikiramu tentang kehidupan… Tak perlu jadi Sejarawan untuk mencatat lembaran sejarah dirimu…

Yang perlu kita lakukan adalah BERHENTI menjadi “Pengekor” Medsos… Jangan didikte atau dikendalikan. Jadilah yang memegang kendali atas Pikiran dan Perasaanmu…  Jangan biarkan karunia Tuhan berupa kehidupan di hari yang baru ini DINODAI oleh virus berita dan emosi negatif dari dunia maya…. First thing first, mari kita awali hari dengan BERSYUKUR dan MENULIS….

*Jakarta, Kamis 29 November 2018 jam 6 pagi.

Summareconku…

Kini sudah 43 tahun perjalananmu dalam berkarya…

Nama adalah Doa…. Ada harapan yang mulia tatkala memulai merintis usaha…

“Summa” yang berarti “Terbaik” dalam namamu memacu diriku untuk mencapai “yang terbaik” dari diriku… semangat untuk selalu memperbaiki diri dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi sesama.

Kiprahmu yang merintis Kelapa Gading.. dari apa yang dulu dianggap “tempat jin buang anak”, membesarkan dan mengasuhnya bagai anak sendiri.. hingga kini menjadi legenda dalam sejarah real estate…

Tidak ada pelajaran yang diambil, jika tidak pernah ada kesalahan…
Tidak ada karya yang berharga jika tidak ada hambatan… Tidak ada sukses tanpa tantangan.

Dari krisis moneter sampai perlambatan ekonomi, kau mengalami berbagai ujian kehidupan.

Dalam karunia Tuhan, “Impian Summarecon” itu terus bergulir ke Serpong, Bekasi, Bandung, Karawang, dan kini Makassar.. Membangun kota… membangun manusia… menebar manfaat di bumi pertiwi….

Kuingin menjadi bagian dari itu… menjadi pendorong dari mesin perubahan ini… untuk menciptakan sejarah baru… untuk kami semua… demi kemajuan Indonesiaku tercinta…

Selamat ulang tahun, Summareconku…

*Ungkapan syukur Pandji Kiansantang pada HUT Summarecon ke-43, Senin, 26 November 2018

TERIMAKASIH

Janganlah kita pernah  menganggap remeh kebaikan dari orang lain
meski sekecil apapun… 
walau  kelihatannya sepele dan tak penting
 
Saudaraku, Terimakasih…
untuk perhatianmu, pada saat lebih banyak orang yang tidak peduli…
 
Terimakasih untuk Ucapan selamat darimu, pada saat lebih banyak orang mengharap diberikan pujian dan ucapan selamat daripada memberikan ucapan selamat pada orang lain …
 
Terimakasih untuk Doa dan Harapan kebaikan bagi hidupku… pada saat biasanya orang berdoa dan mengharapkan yang terbaik untuk dirinya sendiri…
 
Terlebih untuk Doa yang tulus dari hati nurani yang dihaturkan oleh para saudara, keluarga, sahabat  dan relasiku sungguh merupakan karunia yang tidak ternilai
 
Saudaraku, Semoga Tuhan yang Maha Kuasa mengabulkan doamu ini… dan kudoakan agar Tuhan Yang Maha Pengasih mengabulkan doa yang kau berikan bagiku ini juga bagi kehidupanmu, bahkan melipatgandakannya. Aamiin…
 
Doa yang tulus darimu adalah Kado Hadiah terindah, baik pada masa hidupku, maupun Doa darimu sangatlah kuharapkan ketika diriku telah berpulang pada Sang Pencipta…
 
Jangan pernah berhenti peduli, membantu dan memberi — apapun bentuknya, seperti : memberi Doa dan Ucapan selamat.
… Apa yang bagi kita mungkin terlihat kecil dan sepele, bisa jadi sangat berharga dan dibutuhkan bagi orang yang menerimanya.
 
 Perhatian kita pada orang lain menumbuhkan kesadaran mereka bahwa masih ada orang2 yang peduli pada mereka. Bantuan dan Pemberian kita secara moril maupun material merupakan dukungan (support) yang menumbuhkan  Harapan bagi mereka untuk hidup yang lebih baik…. 
 
Jadi perhatian “kecil” seperti mengucapkan selamat melalui media sosial ternyata dapat mengubah hidup orang lain !
 
Mari kita terus menjadi orang baik dan memberikan manfaat bagi sesama
 
Terimakasih… Thank you… Syukron… Xie xie… Matur Nuwun… Nuhun 🙏🙏🙏 
 
*Ungkapan syukur Pandji Kiansantang pada “Hari Amanah Usia” (Hari Lahir) ke-50, Jum’at, 16 November 1968-2018

Bukan “Hari Ulang Tahun” (HUT), tapi “Hari Amanah Umur” (HAUR)

Menyikapi “Ulang Tahun” biasanya kebanyakan orang bergembira dan hari spesial itu dimeriahkan dengan ucapan selamat dari keluarga dan relasi… Ada yang berikan kado… Yang berulangtahun ada yang tiup lilin di atas kue dan mentraktir makan. Hari itu diwarnai dengan pesta, ketawa-ketiwi, berfoto we-fie dan memajangnya di medsos.
 
Tapi sesudah pesta dan kemeriahan itu berakhir, adakah yang berubah pada hari-hari berikutnya?… _Nothing change!_ Ternyata tidak ada yang “bertambah”, selain umur yang bertambah, kerutan kulit dan uban karena menua. Hal ini karena kebanyakan orang hanya “merayakan” ulang tahun secara kesenangan fisik (hura hura) saja, tidak ada tekad perubahan mental. Akibatnya Hari lahir tiap tahun tidak menjadi tonggak yg penting dalam perjalanan hidup…. disikapi tidak dianggap penting karena “sudah sangat biasa terjadi”( take for granted ) … suatu rutinitas…
 
Hal ini terkait dengan sebutan “Ulang Tahun” yang menunjukkan seakan-akan umur berulang begitu saja secara otomatis (seperti putaran jarum jam)… tiap tahun bertambah satu tahun…  seakan-akan pengulangan hari lahir setiap tahun (seperti kata “ulang” tahun”) adalah suatu “keharusan”.
 
Ternyata ada yang “kurang” dalam menyikapi “ulang tahun”… Hakikat Ulang Tahun adalah Umur, tapi kita sering lupa pada “Sang Pemberi Umur” yaitu Allah SWT. Umur adalah rezeki karunia… pemberiankepercayaantitipan dari Allah SWT. Tidak ada keharusan bahwa umur bertambah. Yang berulangtahun hari ini tidak ada jaminan akan berulangtahun tahun depan. 
 
Sesungguhnya ketika berulang tahun berarti “sisa hidup” kita berkurang… perjalanan hidup kita makin mendekati akhir… kita makin dekat untuk kembali pada Sang Pencipta….
 
Jadi bagi kita… khususnya yang sudah dikaruniai umur 50 tahun ke atas… bertambahnya umur seharusnya disikapi dengan sikap perenungan, introspeksi, mawas diri,  bahkan prihatin…. karena Umur adalah “Amanah” yaitu rezeki yang “dipercayakan dan dititipkan”…. Amanah bisa diambil kapan saja, jadi kita harus mohon ampun, bertaubat, dan memperbanyak amal ibadah sebagai persiapan terbaik untuk menghadap Sang Pencipta…. Amanah harus dipertanggungjawabkan, jadi kita harus menjadikan “sisa hidup kita” lebih bermakna dan lebih banyak memberikan manfaat bagi sesama manusia.
 
Jadi dibanding menyebut “Hari Ulang Tahun”  (HUT) dan mengucapkan “Selamat Hari Ulang Tahun (HUT)… lebih tepat menyebutnya “Hari Amanah Umur” (HAUR) karena sesungguhnya Hari istimewa itu bukan hari pesta perayaan,  bukan momen selebrasi, tapi momen introspeksi…. “hari muhasabah”
 
Yang pertamakali harus dilakukan ( first thing first )  pada hari itu adalah “berdialog dengan diri sendiri” dan mengevalusi diri : apa saja yang sudah kita lakukan pada 1 tahun lalu (termasuk prestasi, dosa dan kesalahan yang tak boleh diulangi) dan rencana tindakan apa ( _action plan_) yang akan   kita lakukan 1 tahun. Ini semacam “Resolusi Tahun Baru” (yang sering tidak efektif karena ikut2an dan tidak personal), tapi “Resolusi Hari Amanah Umur” (disingkat Res-Haur) yang dibuat dalam jangka setahun setiap hari lahir.
 
Kesimpulannya dengan menjadikan “HUT” sebagai “Hari Amanah Umur” (HAUR) maka akan menjadi momentum perubahan dalam hidup kita… menjadi
reminder” (pengingat) dan ” wake up call” (panggilan untuk membangunkan / menyadarkan) agar lebih Bersyukur atas rezeki bertambahnya Umur dan tekad memperbaiki diri yang harus kita pertanggungjawabkan pada Sang Pemberi Umur yaitu Allah SWT….
 
* “Haur” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia” (KBBI) berarti “Bidadari”
 
▪Pandji Kiansantang pada   HAUR ke-50, 16 November 1968- 2018. Alhamdulillahi rabbil alamin

HARI RAYA : SAATNYA MEMBERI

Hari Raya Idul Fitri, Hari Kemenangan, adalah Saatnya MEMBERI :

1. Memberi SENYUM. Ulama mengatakan “Menampakkan kegembiraan pada Hari Raya Id adalah termasuk Syiar Agama.

2. Memberi SALAM dan UCAPAN SELAMAT : Lebih dulu mengucapkan “Minal Aidin wal Faidzin” mohon maaf lahir dan batin, baik ketika bertemu langsung maupun secara online melalui media sosial.

3. Memberi JABATAN TANGAN : lebih dulu datang menyalami.

4. Memberi DOA : Mengucapkan “Taqabbalallahu minnaa wa Minkum” (Semoga Allah menerima amalan kita semua).

5. Memberi PERHATIAN, khususnya pada orangtua dan sanak saudara yang sedang sakit.

6. Memberi KUNJUNGAN : ke keluarga, kerabat dan tetangga untuk HBH silaturahmi.

7. Memberi MAKANAN LEBARAN dalam HBH pada keluarga dan tetangga.

8. Memberi ANGPAO LEBARAN bagi anak-anak yang berpuasa maupun mereka yg sudah membantu kita.

9. Memberi SHADAQAH pada saat Shalat Id maupun pada fakir miskin.

10. Memberi BANTUAN dalam bentuk apapun, termasuk membantu memotret yang ingin diabadikan pada momen hari raya (memotret orang adalah “sedekah” karena membuat senang orang lain).

11. Memberi MAAF pada yang meminta maaf dalam HBH. Pada tingkat yang lebih tinggi, juga memaafkan mereka yang tidak meminta maaf.

Intinya, pada Hari Raya ini Banyak MEMBERI dan hanya ada 1 MEMINTA yaitu Meminta MAAF lahir dan batin pada sesama.

Mari berbagi kebahagiaan di Hari Raya… Bahagia membahagiakan sesama pada Hari Bahagia.

(Pandji Kiansantang, 1 Syawal 1439 H di Masjid Agung Al Azhar Kebayoran, Jumat 15 Juni 2018 jam 07.45)

Berhari Raya dengan Membahagiakan Sesama

Video Duet Taushiyah “Akhlaq Ramadhan” oleh Pandji Kiansantang & M. Hidayat, 6 Juni 2018

Video Duet Taushiyah “Akhlaq Ramadhan” oleh Pandji Kiansantang & M. Hidayat, 6 Juni 2018

* Untuk menyaksikan video rekaman ini silakan klik gambar di atas…

Safari Taushiah Ramadhan 1439 H

Video Bukber 3 Keluarga Besar Soeryawinangun

* Untuk menyaksikan video trailer film ini silakan klik gambar di atas…

Video Wejangan Ki Santang untuk Kabayan : “Ulah Sieun” & “Ulah Kaduhung”


* Untuk menyaksikan video trailer film ini silakan klik gambar di atas…

Video Berbagi Motivasi dengan Peserta Gerobak UMKM Summarecon Peduli, oleh Pandji Kiansantang


* Untuk menyaksikan video trailer film ini silakan klik gambar di atas…

Selamat Hari Orangtua Sedunia

“Selamat Hari Lahir Pancasila” 1 Juni 1945-2018

Tantangan 110 Tahun Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 1908-2018)

Selamat Hari Keberagaman Budaya & Keanekaan Hayati Sedunia” (21-22 Mei 2018)

Bahagia Menyambut Ramadhan 1439 H

Selamat Memperingati ISRA MI’RAJ 1439 H