Puisi : BANGKITLAH RANAH MINANG PDF Print E-mail
Puisi - Puisi
Written by Pandji Kiansantang   
Monday, 19 October 2009 11:01

Puisi

 

BANGKITLAH RANAH MINANG

(*sumbangan kecilku untuk bangkitkan semangat dan optimisme korban gempa)

oleh : Pandji Kiansantang

 

Selepas Lebaran, di penghujung September, tak dinyana gempa besar melandamu

Sekonyong-konyong muncul suara gemuruh mengiringi goncangan dahsyat yang meluluh-lantakkan

Bukan sekedar getaran dan goyangan, tapi hempasan yang menjungkirbalikkan semuanya

     

Sudah tak ada lagi kesombongan manusia yang menzhalimi alam karena kerakusan yang tiada habisnya.

Saat itu manusia menyerah, bertekuk lutut di hadapan kuasa alam yang mencari keseimbangannya.

Pekik Takbir membahana menghiba pertolongan Tuhan, diiringi jeritan ketakutan dan isak tangis kesedihan.

Lalu semuanya diam membisu.

Hiruk pikuk kota berubah menjadi Keheningan yang mencekam.

Ramainya kota menjadi Kota mati.

Hanya dalam hitungan Detik, semua yang dibangun selama Puluhan tahun menjadi Luluh lantak.

Yang tersisa hanya puing-puing kebinasaan.

Hotel, sekolah, Rumah dan Rumah Ibadah hancur berantakan tanpa pandang bulu

 

Semua luruh... runtuh... rata dengan tanah...

Rumah Gadang yang dulu berdiri megah kini ambruk terpuruk.

Kota Padang dan Pariaman porak poranda

Kampung Tandikek lenyap bagai ditelan Bumi

Lembah Gunung Tigo menjadi Kuburan Massal

Ribuan orang meregang nyawa

Puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal dan mata pencahariannya.

   

Saat itu terbukti bahwa Tidak ada yang Abadi dalam hidup di dunia ini.

Jika Tuhan berkehendak, Bencana akan mengalahkan Rencana manusia

Yang kemarin masih punya Rumah mewah kini menjadi Tuna Wisma dan terpaksa jadi pengungsi

Yang tadinya punya jabatan tinggi, kini kehilangan tempat kerjanya dan menjadi pengangguran

Sekonyong-konyong orang kehilangan orangtua, suami, istri dan anak

Dalam sekejap menjadi tidak punya apa-apa...

Namun Penderitaan belum berakhir.

Kelaparan, Trauma dan Penyakit kini mengancam para pengungsi

  

Ranah Minang yang malang, kini kau menangis dalam duka yang dalam

Takkan kukatakan dengan berlagak empati bahwa ”Kami dapat merasakan penderitaanmu”...

Karena sesungguhnya kami takkan bisa, bahkan mungkin takkan setangguhmu dalam menahan derita ini.

Kutakkan bisa merasakan penderitaan korban yang terjepit dalam reruntuhan, yang hampir putus asa menunggu datangnya bantuan.

Atau sekedar, menyelami perasaan korban di daerah terpencil yang terpaksa tidur beratapkan langit karena trauma khawatir gempa susulan.... sambil menggigigil karena guyuran hujan dengan perut kelaparan karena bantuan belum juga datang.

 

Kubertanya.... Katanya negeri kita adalah kawasan rawan bencana... tapi mengapa kita tidak makin baik dalam menangani bencana?

Mengapa kita tidak pernah belajar dari pengalaman... sehingga kesalahan yang sama masih berulang?

Mengapa kita pintar dalam membuat Undang-undang dan Lembaga Penanganan Bencana, tapi sulit untuk mengerahkan alat-alat berat untuk menyelamatkan korban reruntuhan?

Mengapa bantuan menumpuk di Kantor gubenur, tapi sulit untuk mendistribusikannya sehingga korban di wilayah terpencil hampir mati kelaparan?

Mengapa masih ada mereka yang tega mengambil keuntungan di tengah bencana?

Mengapa kita selalu menyembunyikan ketidakbecusan kita dengan dalih ”kita harus pasrah karena ini adalah kehendak Tuhan” ?

Seperti judul lagu... ”Badai Pasti Berlalu”...., tapi mengapa Badai itu terus datang silih berganti?

 

Onde mande... Apa yang terjadi ?

  

Kuterbayang keindahan ranah Minang... dari eloknya Ngarai Sianok, Lembah Anai dan Danau Maninjau sampai pesona ombak Mentawai, surga bagi peselancar dunia..

Kuteringat indahnya Tari Piring dan Tari Randai  serta kejayaan Kerajaaan Pagarruyung.

Lidahku takkan lupa aroma masakanmu, yang pedas menggigit dan terkenal sampai mancanegara...

  

Kuterngiang prinsip hidupmu ”Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah”... Adat bersendi Agama, Agama bersendi Kitab suci

Ku terilhami semangat demokrasimu sesuai motto „Tuah Sakato“ ... Se-ia Sekata

Kau junjung Kaum Wanitamu dalam sistim warismu yang unik dan tiada duanya.

Kau matangkan kaum priamu dengan budaya Merantau sebagai batu ujian dalam menjalani kehidupan

Kau sejahterakan wargamu dengan jiwa dagang di segala bidang

Kau lestarikan ikatan batin para perantaumu yang selalu ingat daerah asalnya walau ”Kampuang nan jauh di mato”

Dan takkan kulupa bahwa kau..,. Minangkabau, tanah para pejuang.

Semangat kepahlawanan Imam Bonjol, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir sampai Buya Hamka dan Chairil Anwar telah mengharumkan negeri ini.

Ranah Minang, deritamu adalah derita kami... tangisanmu adalah tangisan kami

Kini Indonesia bersatu dalam peduli

Yang membuat kita tetap hidup.. di saat kita kehilangan hampir segalanya... adalah masih adanya Harapan yang tersisa

  

Kupercaya bahwa kau Minangkabau, sesuai asal usul namamu, Kerbau yang menang tanding, dan Negeri para Pemberani..... dapat segera Bangkit dengan semangat Pemenang.

 

Bangkitlah Minang-ku !!!

  

 

Pandji Kiansantang,

Jakarta, 16 Oktober 2009

 

Last Updated on Tuesday, 03 November 2009 17:16